Turki Mengubah Hidupku Tanpa Basa-Basi

Turki Mengubah Hidupku Tanpa Basa-Basi

par Hasan Basri,
Nombre de réponses : 0

Bestie, aku mau cerita sesuatu yang sampai sekarang masih kebayang-bayang di kepala. Kamu tahu kan, kadang hidup tuh terasa kayak gini terus–kerja, pusing, rutinitas, ketawa palsu, pura-pura kuat. Tapi suatu hari, aku memutuskan buat jeda sejenak. Ibadah dulu di Tanah Suci, lalu lanjut ke Turki. Dan tanpa drama pun, perjalanan ini benar-benar ngubah cara aku memandang hidup.

Awal nyampe Istanbul, aku tuh cuma berdiri dan bengong. Langitnya, bangunannya, anginnya, semuanya terasa seperti bilang, “Kamu sudah jauh melangkah, istirahat sebentar.” Aku jalan, tapi hati yang berjalan duluan.

Masuk Hagia Sophia… bestie, kamu harus lihat sendiri kalau mau percaya. Kubahnya megah, lampu gantungnya turun rendah, lantainya dingin, tapi hatiku hangat. Rasanya seperti tempat ini bilang, “Sakitmu valid, lelahmu dipahami.” Sumpah, aku bukan orang cengeng, tapi aku cuma bisa diam lama sekali.

Habis itu ke Masjid Biru. Waktu adzan Magrib berkumandang, suaranya tuh ya… bukan cuma terdengar, tapi terasa. Kayak ada yang ngetok pintu hati. Ada ibu-ibu rombongan yang tiba-tiba nangis, padahal sebelumnya kelihatan tegar banget. Dan aku sadar, banyak dari kita yang bisa terlihat kuat… padahal sebenarnya cuma terbiasa menahan.

Lanjut ke Cappadocia. Bangun jam 4 pagi demi lihat balon udara, tapi sepadan banget. Langit perlahan berubah warna, balon naik satu per satu. Semua orang sibuk foto, tapi aku cuma berdiri sambil memperhatikan. Dan untuk pertama kalinya dalam waktu lama, aku merasa lega. Kayak semua berat yang aku bawa seumur hidup pelan-pelan ikut terbang ke langit.

Di Pamukkale… kolam putih hangat itu bikin kaki nyaman dan pikiran kosong. Aku duduk sambil merendam kaki, lalu tiba-tiba kepikiran, “Kenapa selama ini aku sering lupa bahagia, ya?” Kita sering banget mikir hidup itu cuma soal bertahan, padahal kita juga berhak menikmati.

Di Izmir dan Kusadasi, aku duduk di tepi laut. Ombaknya pelan, anginnya lembut. Aku lihat pemandangan yang cantik, tapi yang terasa justru ketenangan. Seakan hidup bilang, “Lihat, kamu masih punya banyak hal indah untuk dijalani.”

Terakhir di Bursa, azan Dzuhur berkumandang dari Ulu Cami. Bestie, adzan ini beda. Rasanya kayak ada yang memelukmu tanpa menyentuh. Dan aku cuma berdiri sambil merasa… dipanggil pulang.

Banyak orang bilang perjalanan ini jadi jauh lebih bermakna karena ikut program turki bikin aku menangis. Namanya lucu, tapi jujur pas. Turki memang bikin menangis bukan karena sedih, tapi karena akhirnya kamu merasa bebas.

Malam terakhir di tepi Bosphorus, semua diam. Angin lembut lewat, kapal pelan melintas, cahaya lampu kota memantul di air. Aku duduk sendiri, tapi untuk pertama kalinya aku tidak merasa kesepian. Ada sesuatu yang sembuh. Tanpa disuruh, tanpa dipaksa, tanpa diminta.

Dan waktu pesawat pulang akhirnya tinggal landas, aku tahu satu hal: aku tidak bisa kembali jadi diriku yang dulu. Dan aku bersyukur.

Kadang yang kita butuhkan bukan jawaban. Bukan solusi. Bukan orang baru. Kadang kita cuma butuh pergi sebentar, untuk sadar betapa berharganya diri kita sendiri.

Turki mengubahku, bestie. Dan kalau nanti ada kesempatan, aku berharap kamu juga ngerasain momen itu momen di mana hidup nggak lagi terasa berat, tapi terasa layak dijalani.